Home > Uncategorized > Operasional Bus “Mati Suri”

Operasional Bus “Mati Suri”

Puluhan pengendara motor berbalik arah saat dihalau polisi karena berkendara melawan arus di Jalan Bekasi Raya, Cakung, Jakarta Timur, Senin (27/6). Pemandangan ini juga terjadi di berbagai ruas jalan di Jakarta. Foto diambil pada pukul 06.43.

Jakarta, Kompas – Keberpihakan negara terhadap bus di Jakarta mendesak dilakukan karena saat ini dalam kondisi ”mati suri” akibat kehilangan penumpang. Dibutuhkan langkah cepat untuk mengembalikan bus sebagai tulang punggung warga yang setiap hari melakukan sekitar 20,7 juta perjalanan.

Pembenahan ini perlu dilakukan dari sisi teknis, seperti penambahan armada dan manajemen. Data Kementerian Koordinator Perekonomian menunjukkan, selama kurun delapan tahun, bus tidak lagi memegang peranan penting dalam menghubungkan perjalanan komuter dari rumah ke tempat kerja.

Tahun 2002, bus masih melayani 38,3 persen perjalanan ke tempat kerja. Jumlah ini jauh di atas pengguna sepeda motor sebesar 21,2 persen. Sisanya menggunakan berbagai moda, termasuk mobil.

Akan tetapi, tahun 2010, penggunaan bus sebagai moda transportasi turun drastis, yakni 12,9 persen dari total kendaraan komuter. Moda transportasi utama yang dipakai ke tempat kerja adalah sepeda motor yang mencapai 48,7 persen.

Keberadaan bus transjakarta memang memberikan citra baru bagi transportasi umum Jakarta, tetapi belum banyak menarik pengguna kendaraan pribadi.

Menurut survei Kementerian Koordinator Perekonomian 2009, sebagian besar pengguna bus transjakarta adalah pengguna bus reguler. Keberadaan bus transjakarta belum mampu membuat pengguna sepeda motor beralih ke moda transportasi umum. Hanya sekitar 1 persen pengguna mobil yang beralih ke bus.

Asisten Deputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Tulus Hutagalung, Senin (27/6), mengakui, fenomena ini menggambarkan ”sekaratnya” angkutan umum.

”Kota megapolitan modern seharusnya bersandarkan pada sistem angkutan umum massal. Pada abad ke-21, kita tidak bisa mengandalkan metromini, kopaja, mikrolet, dan bajaj lagi untuk melayani masyarakat perkotaan modern yang butuh mobilitas tinggi,” papar Tulus.

Pilihan masyarakat pada sepeda motor, menurut dia, dikarenakan angkutan ini paling murah dan bahan bakarnya disubsidi pemerintah. Selain itu, sepeda motor bisa menembus kemacetan dan mengantarkan orang ke tempat tujuan.

Perubahan manajemen

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi, melihat bus transjakarta belum maksimal. Saat ini, kapasitas angkut bus transjakarta 300.000-370.000 orang per hari.

”Kapasitas angkut penumpang bisa ditingkatkan 700.000-900.000 orang per hari karena potensi penumpangnya ada,” ucap Tulus.

Penggenjotan penumpang bisa dilakukan bila ada perubahan manajemen pengelola bus transjakarta dari Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta Busway menjadi badan usaha milik daerah (BUMD). Dengan perubahan ini, gerak BLU bisa lebih leluasa untuk mengambil keputusan dan keputusan finansial.

Selain itu, keterkaitan antara bus transjakarta dan moda angkutan lain juga bisa meningkatkan kapasitas angkut. Antara stasiun kereta dan halte bus transjakarta, misalnya, belum terintegrasi hingga menyulitkan pengguna kendaraan berpindah moda angkutan.

Kepala BLU Transjakarta Muhammad Akbar mengungkapkan, perubahan lembaga pengatur bus transjakarta dari BLU menjadi BUMD bisa mempercepat perubahan.

”Saat ini, pimpinan BLU terbatas dari kalangan pegawai negeri sipil. Apabila diubah menjadi BUMD, pimpinan BLU bisa dicari dari orang yang lebih profesional dan pilihan bisa lebih banyak,” kata Akbar.

Dari sisi operasional, masih ada sejumlah kendala, antara lain pengendalian pergerakan bus yang masih manual, keterbatasan stasiun pengisian bahan bakar gas, dan keterbatasan jumlah armada.

Bus mati suri

Keterbatasan penumpang ini membuat sejumlah trayek bus ”mati suri”. Di Terminal Depok, Jawa Barat, semestinya ada 47 trayek. Kini tinggal 16 trayek karena 31 trayek bus antarkota dalam provinsi dan antarkota antarprovinsi tidak beroperasi lagi. Penghilangan trayek ini oleh pengusaha otobus karena jumlah calon penumpang terus menyusut. Akibat penghilangan trayek tersebut, kini 255 dari 382 bus dikandangkan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Terminal Depok Endang Wahyu mengatakan, biasanya trayek bus yang mati akan dihidupkan lagi oleh para pemilik untuk arus mudik Lebaran atau libur sekolah. Selain itu, perilaku pengemudi kendaraan umum juga kerap membahayakan penumpang.

Hari Minggu, bus Mayasari Bakti P02 menabrak pengguna sepeda motor di kawasan Slipi. Akibat kejadian itu, sepasang suami-istri meninggal seketika dan dua anak mereka mengalami luka serius.

Solusi jangka pendek

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Royke Lumowa mengatakan, rekayasa lalu lintas yang dilakukan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta saat ini hanya untuk mengatasi kemacetan jangka pendek.

”Harus dari sekarang mulai dirancang dan dilaksanakan pengaturan pengoperasian kendaraan, baik pribadi maupun umum. Kalau tidak mulai dari sekarang, akan terjadi stagnasi arus di mana-mana,” kata Royke.

Rekayasa ini termasuk program pengaturan operasi truk besar di tol dalam kota dan pelarangan parkir di badan jalan. Begitu juga rencana pengoperasian jalan berbayar dan pembatasan operasi mobil pribadi berdasarkan warna kendaraan atau genap ganjil angka nomor kendaraan.

Untuk mencapai lalu lintas yang ideal harus diputuskan melakukan kebijakan yang ekstrem dan kuat, yakni pembenahan kendaraan umum dan pengurangan kendaraan pribadi baru.

Jumlah kendaraan umum per Mei 2011 di wilayah hukum Polda Metro Jaya adalah 452.274 unit dan 12.109 unit di antaranya bus. Sementara total kendaraan penumpang pribadi sampai tahun 2010 mencapai 2,3 juta unit dan sepeda motor 8,6 juta unit.

Royke berharap tidak ada lagi pembangunan gedung tinggi yang menarik kedatangan orang tanpa pengkajian analisis mengenai dampak lingkungan lalu lintas. ”Pembangunan Plaza Semanggi dan Cibubur Junction adalah pelajaran berharga untuk kita semua,” tuturnya.

(RTS/HAR/NDY/OSA/ ARN/MDN/FRO/ART)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/06/28/01532856/operasional.bus.mati.suri

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: