Home > Uncategorized > Harga Bahan Bakar Minyak Nonsubsidi Naik

Harga Bahan Bakar Minyak Nonsubsidi Naik

Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak nonsubidi pertamax di SPBU Jalan Penjernihan, Jakarta, Senin (2/5). Pertamina kembali menaikkan harga pertamax sejak 1 Mei. Harga pertamax naik dari Rp 8.700 per liter menjadi Rp 9.050 per liter.

Jakarta, Kompas – Harga beberapa jenis bahan bakar minyak nonsubsidi kembali naik hingga menembus angka Rp 9.000 per liter. Produsen bahan bakar minyak nonsubsidi beralasan, kenaikan harga BBM nonsubsidi ini dipicu oleh perkembangan harga minyak dunia yang merupakan komponen produksi bahan bakar tersebut. Namun, harga minyak dunia pada Senin (2/5) justru turun.

Seperti dilaporkan Antara, harga minyak turun lebih dari 3 persen pada Senin setelah pasukan Amerika Serikat menewaskan pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, menyusul satu dekade operasi militer di seluruh pusat Asia dan Timur Tengah.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni turun 4,22 dollar Amerika Serikat ke serendah 121,67 dollar AS per barrel sebelum naik menjadi 123,65 dollar AS pada 11.10 GMT (18.10 WIB). Bulan lalu, Brent mencapai harga tertinggi 32 bulan di atas 127 dollar AS.

Minyak mentah AS turun 1,90 dollar AS menjadi 112,03 dollar AS.

Volume perdagangan berjangka Eropa tertekan oleh liburan publik di Inggris dan beberapa negara lain, yang mungkin menambah volatilitas harga.

Pantauan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah Jakarta, harga beberapa jenis BBM nonsubsidi meningkat. Harga pertamax naik dari Rp 8.700 per liter menjadi Rp 9.050 per liter. Hal serupa juga terjadi pada produk BBM Shell yang kini harganya juga mencapai Rp 9.050 per liter.

Manajer Media PT Pertamina Wianda Pusponegoro, Senin di Jakarta, menyatakan, pertamax merupakan produk BBM nonsubsidi yang tentunya harga produknya akan mengikuti perkembangan pasar sehingga harga jualnya pun menyesuaikan.

Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina Mochamad Harun menambahkan, kenaikan harga BBM nonsubsidi itu terjadi karena bahan baku atau harga minyak mentah dunia tinggi. Selain itu, permintaan terhadap produk BBM ini juga terus meningkat di pasar internasional sehingga memicu peningkatan harga pada produk sejenis. ”Banyak orang menyimpan minyak menjelang musim panas,” katanya.

Menurut data PT Pertamina, per 1 Mei lalu, harga pertamax rata-rata meningkat pada kisaran Rp 300-Rp 350 per liter. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, harga pertamax naik dari Rp 8.700 menjadi Rp 9.050 per liter. Di wilayah Sumatera Barat, harga BBM nonsubsidi itu naik dari Rp 9.650 menjadi Rp 9.950 per liter.

Harga pertamax di kawasan Indonesia timur juga naik. Di Nusa Tenggara Barat, misalnya, harga pertamax naik dari Rp 9.300 menjadi Rp 9.650 per liter. Di Palu, harga pertamax naik dari Rp 9.100 menjadi Rp 10.150 per liter. Harga pertamax di Gorontalo naik Rp 400 menjadi Rp 10.150 per liter.

Naiknya harga pertamax membuat antrean pembelian premium semakin panjang. Dari 15 SPBU di Gorontalo, hanya ada dua SPBU yang menjual pertamax. Pengamatan di lapangan pada Senin di tiga SPBU yang ada di Kota Gorontalo, rata-rata panjang antrean membeli premium untuk sepeda motor dan mobil mencapai 100 meter.

Salah satu pembeli premium yang mengendarai mobil, Husni (40), mengaku, harga pertamax kini terlalu mahal sehingga dirinya memilih membeli premium.

Untuk mencegah kekurangan suplai premium di Gorontalo sejak naiknya harga pertamax, PT Pertamina Unit Pemasaran VII Depot Gorontalo menaikkan jumlah pasokan dari 247 kiloliter menjadi 260 kiloliter per hari. Manajer Penjualan PT Pertamina Area Sulawesi Utara dan Gorontalo Irwansyah mengatakan, pasokan premium di Gorontalo saat ini masih cukup hingga lima hari ke depan.

Antrean kendaraan untuk memperoleh solar masih terjadi di Banjarmasin dan sejumlah daerah lainnya di Kalimantan Selatan. Di Banjarmasin, kendaraan harus antre hingga dua jam.

Gubernur Kalsel Rudy Arifin mengatakan, krisis solar tiga bulan terakhir diduga sebagai dampak tingginya disparitas harga bahan bakar untuk kendaraan bersubsidi dan industri yang nonsubsidi. Akibatnya, banyak pihak memanfaatkan situasi.(APO/WER/EVY)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/05/03/0326268/harga.bahan.bakar.minyak.nonsubsidi.naik

About these ads
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: